TABOT SEBAGAI BUDAYA ETNIK BENGKULU


TABOT SEBAGAI BUDAYA ETNIK BENGKULU

1.      Budaya dan Kebudayaan
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Sedangkan kebudayaan menurut Edward Burnett Tylor merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

2.      Istilah Etnik dan Etnis
Pada awalnya istilah etnik hanya digunakan untuk suku-suku tertentu yang dianggap bukan asli Indonesia, namun telah lama bermukim dan berbaur dalam masyarakat, serta tetap mempertahankan identitas mereka melalui cara-cara khas mereka yang dikerjakan, dan atau karena secara fisik mereka benar-benar khas. Misalnya etnik Cina, etnik Arab, dan etnik Tamil-India.
Perkembangan belakangan, istilah etnik juga dipakai sebagai sinonim dari kata suku pada suku-suku yang dianggap asli Indonesia. Misalnya etnik Bugis, etnik Minang, etnik Dairi-Pakpak, etnik Dani, etnik Sasak, dan ratusan etnik lainnya. Malahan akhir-akhir ini istilah suku mulai ditinggalkan karena berasosiasi dengan keprimitifan (suku dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai ‘tribe’), sedangkan istilah etnik dirasa lebih netral. Istilah etnik sendiri merujuk pada pengertian kelompok orang-orang, sementara etnis merujuk pada orang-orang dalam kelompok.

3.      Tabot, Budaya Etnik Bengkulu
Jika kita berbicara tentang provinsi Bengkulu, maka erat kaitannya dengan budaya Tabot. Karena tabot merupakan budaya etnik daerah tersebut. Perayaan budaya tabot dilakukan oleh masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Perayaan ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.
Sementara tabot itu sendiri adalah sebuah bangunan yang menyerupai pagoda atau menara masjid yang bertingkat-tingkat terbuat dari rangka kayu dan bambu, kadangkala pada bangunan tersebut ditambahkan pula bentuk-bentuk lain seperti burung berkepala manusia, ikan, rumah adat, dan sebagainya. Bangunan ini dihiasi kertas aneka warna dan hiasan lainnya, jika malam tabot-tabot ini dihiasi lampu-lampu kecil beraneka warna mencolok menjadi cemerlang, bahkan dewasa ini telah dilengkapi pula dengan sistem berputar. Sedangkan pengertian tabot yang kedua lebih bersifat fisik. Tabot dalam pengertian ini dipahami sebagai suatu ornament berbentuk candi atau rumah yang mempunyai satu atau lebih puncak, dengan ukuran yang berbeda-beda, dibuat dari bahan-bahan tertentu dan dikhususkan untuk perayaan tabot.

Bengkulu - Tabot

Bagi masyarakat Bengkulu, perayaan tabot yang diselenggarakan pada 1-10 Muharam tersebut selalu mereka tunggu. Setiap malam, ribuan warga memadati Lapangan Merdeka (tak jauh dari Benteng Marlborough). Di sini, mereka berkumpul menyaksikan aneka acara pendukung yang digelar, termasuk menikmati suasana dan jajanan di arena pasar malam dan stan-stan peserta pameran pembangunan.
Bahkan, pada puncak prosesi yang diselenggarakan pada tengah hari tanggal 10 Muharam, puluhan ribu warga tumpah ke jalan-jalan utama yang dilewati arak-arakan tabot, yang bergerak mulai dari Lapangan Merdeka hingga berakhir di Pemakaman Umum Karbala di Kelurahan Padang Jati. Lokasi ini dipilih sebagai tempat akhir sekaligus penutup rangkaian prosesi lewat apa yang mereka sebut Tabot Tebuang itu karena diyakini di sanalah Imam Senggolo dimakamkan.
Pada awalnya ada benturan pemahaman di kalangan masyarakat terhadap tabot. Sebagian elemen masyarakat mengecamnya dan menganggapnya perbuatan syirik. Akan tetapi, berangsur-angsur pemahaman itu hilang seiring dengan proses akulturasi dan dalam perkembangannya dianggap sebagai budaya. Pada prinsipnya, perayaan tabot memiliki hubungan dengan paham syi’ah, yang dibuktikan dengan arak-arakan tabot yang pesannya menggambarkan ritus penghormatan atas syahidnya Imam Husein di Karbala. Dalam perjalanannya melalui proses asimilasi, akomodasi, dan interaksi budaya yang cukup intens antara ritus bernuansa syi’ah ini dengan budaya-budaya lokal Bengkulu, maka tabot mengalami metamorfose budaya. Yang semula tabot digelar dalam rangka melaksanakan syi’ah sebagai paham atau ideologi, kini menjadi sebuah kearifan lokal atau sekadar sebagai praktik syi’ah kultural. Dalam konteks ini, syi’isme bukan lagi sebagai paham atau ideologi keagamaan, tetapi sebagai ornamen budaya.

Bengkulu - Tabot

Dalam konteks yang lebih luas, mayoritas masyarakat Bengkulu sudah tidak mempersoalkan asal-usul tabot, apakah bersumber dari paham syi’i atau sunni. Tabot sudah dianggap sebagai bagian dari budaya mereka yang perlu dirayakan sepanjang tahun, tak ubahnya upacara sekaten di Kesultanan Yogyakarta.
Perayaan tabot tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Secara umum, ada tiga nilai yang terkandung dalam perayaan tabot, yaitu: nilai Agama (sakral), sejarah, dan sosial. Nilai-nilai agama (sakral) dalam perayaan tabot diantaranya adalah: satu, proses mengambik tanah mengingatkan manusia akan asal penciptaannya. Kedua, terlepas dari adanya pandangan bahwa tabot mengandung unsur penyimpangan dalam akidah, seperti penggunaan mantera-mantera dan ayat- ayat suci dalam prosesi mengambik tanah, namun esensinya adalah untuk menyadarkan kita bahwa keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya lokal. Dan ketiga, perayaan tabot merupakan perayaan untuk menyambut tahun baru Islam.
Nilai sejarah yang terkandung dalam budaya tabot adalah sebagai manifestasi kecintaan dan untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yakni Husein bin Abi Thalib yang terbunuh di Padang Karbala dan juga sebagai ekspresi permusuhan terhadap keluarga Bani Umayyah pada umumnya dan khususnya pada Yazid bin Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah yang memerintah waktu itu, beserta Gubernur ‘Ubaidillah bin Ziyad yang memerintahkan penyerangan terhadap Husein bin ‘Ali beserta laskarnya. Adapun nilai sosial yang terkandung didalamnya, antara lain: mengingatkan manusia akan praktik penghalalan segala cara untuk menuju puncak kekuasaan dan simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial.
Banyak nilai-nilai kebijaksanaan yang dapat digali dan dijadikan landasan untuk mengarungi kehidupan, tetapi jika tidak disikapi dengan bijaksana, maka perayaan tabot akan menjadi sekedar festival budaya yang kehilangan makna dasarnya. Meriah dalam pelaksanaan (festival) tapi kehilangan sepiritnya.

4.      Pengaruh Tabot Sebagai Budaya Etnik Bengkulu
Daya tarik perayaan tabot sangat berpengaruh pada masyarakat Bengkulu. Sejak dahulu apabila bulan tabot datang, masyarakat Bengkulu yang tinggal di luar Bengkulu pasti menyempatkan diri untuk melihat perayaan tahunan ini sekaligus untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarganya. Sebagai dampaknya, tabot menyemarakkan Bengkulu. Lebih-lebih pada malam tabot bersanding, banyak orang memadati Lapangan Tugu Bengkulu. Jauh-jauh hari sebelum perayaan tabot, masyarakat Bengkulu sudah mempersipakan tempat-tempat penampungan untuk sanak keluarga yang akan datang ke Bengkulu.

Bengkulu - Tabot


5.      Peran Tabot Sebagai Budaya Etnik Bengkulu
a.       Berperan dalam Membangun Kerukunan Sosial
Tabot bisa berdampak positif dalam membangun kerukunan sosial karena dengan adanya tabot, warga akan sering berkumpul untuk musyawarah dan mempersiapkan perayaan tabot serta melaksanakan perayaan tersebut. Disamping itu, dulunya, sebelum adanya larangan pungutan biaya perayaan tabot, para keluarga tabot banyak datang bersilaturahmi ke rumah-rumah penduduk, terutama untuk meminta sumbangan.

Bengkulu - Tabot

Melaui tabot bisa dibangun rasa saling memahami diantara berbagai elemen masyarakat Bengkulu yang majemuk. Berbagai komponen masyarakat lintas agama, lintas budaya, dan lintas adat bisa secara sinergis menyukseskan perayaan tabot. Sebab, dalam perayaan tabot itu semua pihak dari berbagai penganut agama dan etnis turut hadir. Bahkan perayaan tabot sekarang ini juga dimeriahkan dengan kesenian barongsai, yang merupakan kesenian etnis Tionghoa.
b.      Berperan Sebagai Aset Wisata Andalan Masyarakat Bengkulu
 Tabot dianggap sebagai aset pariwisata yang berharga bagi daerah Bengkulu. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa para penonton tabot datang dari beberapa daerah di luar Bengkulu seperti Linggau, Palembang, Jambi, dan Sumatra Barat. Bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Bengkulu - Tabot

Perayaan tabot cukup berpengaruh dalam menggerakkan kegiatan perekonomian warga sehingga meningkatkan pendapatan daerah. Hal ini terjadi karena selama tabot dirayakan akan mengundang wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang secara tidak langsung maupun langsung akan memperluas volume usaha, kerajinan, konsumsi, perdagangan, transportasi, dan penginapan. Hal ini akan mengakibatkan peredaran uang akan meningkat lebih banyak dari biasanya. Para pedagang kaki lima yang rata-rata bermodal lemah merasa memperoleh kesempatan yang baik untuk mengembangkan usahanya. Usaha jasa angkutan, taksi kota, becak maupun tempat-tempat penginapan mendapat kesempatan yang baik untuk memperoleh penghasilan yang tinggi.
Tabot merupakan suatu kegiatan yang menarik untuk dilihat dan disaksikan karena mempunyai nilai-nilai budaya tinggi dan menyajikan berbagai cabang seni, seperti seni ukir, musik, tari, dan kerjinan. Secara positif, perayaan tabot akan menumbuhkan motivasi bagi masyarakat untuk menghargai sebuah karya seni dan memberi peluang bagi berkembangnya keterampilan seni-seni tersebut.
  
Sumber:
Dahri, Harapandi. 2009. Tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi di Bengkulu. Jakarta: Citra.
M. Setiadi, Elly. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
 
 Acara meradai ini dilakukan pada tanggal 6 Muharram sekitar pukul07.00-17.00 wib. Pelaksanaan acara ini disebut dengan
 Jola 
yang diambildari anak-anak 10-12 tahun.
5. Arak Penja (mengarak jari-jari) 
 Arak Penja dilaksanakan pada malam ke-8 Muharram, sekitar pukul19.00-21.00 wib dengan menempuh jalan-jalan utama di kota Bengkulu.
6. Arak Serban (mengarak Sorban) 
Berlangsung pada malam ke-9 Muharram, sekitar pukul 19.00-21.00dengan mengambil rute yang sama dengan Arak Penja. Benda yang diarak selain Penja ditambah dengan Serban (Sorban) putih diletakkan pada Tabot Coki (Tabot Kecil), dilengkapi dengan bendera/panji-panji berwarna putihdan hijau atau biru yang bertuliskan nama “Hasan dan Husain” dengankaligrafi Arab yang indah.
7.

Gam (tenang berkabung) 
Satu di antara tahapan upacara Tabot ini terdapat suatu acara yang mesti ditaati yaitu “gam”, suatu waktu yang ditentukan yang tidak boleh ada kegiatan apapun. Gam berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup atauterhalang. Masa gam ini dimulai dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00, dimana pada waktu tersebut semua kegiatan yang berkaitan dengan upacara Tabot termasuk membunyikan dol dan tassa, tidak boleh dilakukan. Jadimasa gam dapat juga disebut masa tenang.
8. Arak Gedang (taptu akbar) 
Pada 9 Muharram malam, sekitar pukul 19.00 dilaksanakan secara ritual pelepasan Tabot Besanding di gerga (markas) masing-masing.Selanjutnya dilanjutkan dengan arak gedang yakni grup Tabot berarak darimarkas masing-masing menempuh rute yang ditentukan. Kemudian mereka akan bertemu sehingga membentuk arak gedang (pawai akbar). Arak-arakanini menjadi ramai karena menyatunya grup-grup Tabot, grup-grup hiburan,para pendukung masing-masing serta masyarakat. Acara ini berakhir sekitar
26
 
pukul 20.00 wib. Akhir dari acara arak gedang ini adalah seluruh Tabot dangrup penghibur berkumpul di lapangan Merdeka Bengkulu (Sekarang:Lapangan Tugu Propinsi). Tabot dibariskan bershaf istilah lokaldisandingkan, karenanya acara ini dinamakan Tabot Besanding.
9.

Tabot tebuang (Tabo terbuang) 
 Acara terakhir dari rangkaian upacara Tabot adalah acara Tabot tebuang. Pada pukul 09.00 wib seluruh Tabot telah berkumpul di lapanganMerdeka dan telah disandingkan sebagaimana malam Tabot besanding.Grup hiburan telah berkumpul pula di sini dan menghibur para pengunjung  yang hadir di waktu itu. Pada sekitar pukul 11.00 arak-arakan Tabot bergerak menuju ke Padang Jati dan berakhir di kompleks pemakamanumum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual Tabot tebuang karena di sini dimakamkan Imam Senggolo (Syekh Burhanuddin) peloporupacara Tabot di Bengkulu.Pada sekitar pukul 12.30 wib acara Tabot tebuang di makamSenggolo tersebut. Karena dipandang bernilai magis, acara ini hanya bisa dipimpin oleh Dukun Tabot yang tertua. Selesai acara ritual di atas, barulahbangunan Tabot dibuang ke rawa-rawa yang berdampingan dengankomplek makam tersebut. Dengan terbuangnya Tabot pada sekitar pukul13.30, maka selesailah seluruh rangkaian upacara Tabot dimaksud.Untuk memperoleh gambaran secara mendalam tentang akar ideologis-keagamaan dari Tradisi Tabot alangkah baiknya pada bagian ini, penelitimembeberkan pendapat para tokoh yang dianggap berkompeten memberikanpenjelasan seputar masalah ini.Menurut keterangan Ketua Kerukunan Keluarga Tabot, Ir. A Syiafril Sy,Tabot berasal dari Jazirah Arab atau persisnya di daerah Irak sekarang. IstilahTabot ini sendiri sebenarnya sudah muncul sejak zaman Nabi Musa A.S dankeluarga Nabi Harun AS yang berarti kotak. Dalam buku upacara ritual danfestival Tabot tahun 2002 disebutkan bahwa kisah Tabot (perebutan kekusaan
27
 
antara Talut dan Jalut) juga terjadi pada diri nabi Musa AS, dimana saat Musa dilahirkan lalu dibuang ke Sungai Nil setelah terlebih dahulu ditempatkan didalam “Tabot” agar selamat dari pembunuhan terhadap bayi laki-laki yang diinstruksikan Fir’aun.
 “Tabot” 
secara harfiah dalam bahasa Arab berarti peti kayu yang dilapisidengan emas. Dalam pengertian umum
“Tabot 
” merupakan arak-arakan peti darikayu yang dihiasi dengan bermacam warna. Erman Makmur (1982:19)mengemukakan :
“Tabot” 
merupakan suatu arak-arakan dengan membawa panji-panji serta diiringi dengan bunyi-bunyian (lagu) gendang bertalu-talu… kegiatannya bermula dari acara mengambil tanah (sebagai Palembang jasad Husein) dandiakhiri dengan cara “Tabot” Terbuang, berlangsung selama 10 hari, yaitusemenjak tanggal 1 sampai tanggal 10 Muharram.Tabot pada hakekatnya sarat makna, karena di dalamnya berisi serangkaiansikap dan simbol-simbol prilaku yang diilustrasikan melalui serangkaian arak peti yang dihiasi dengan bermacam-macam warna dan dilaksanakan pada tanggal 1Muharram sampai 10 Muharram, dalam rangka memperingati kematian Huseinbin Ali.Secara lebih luas, menurut Syiafril, Tabot dimaknai untuk mendramatisasikan sebuah perebutan kekuasaan yang tidak seimbang. Darisinilah muncul Tabot dalam bentuk lain, sebagai bagian dari cara untuk mengenang peperangan di Kerabela, Irak pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriyah ataubertepatan dengan 10 Oktober 680 M. Dalam peperangan yang melibatkan dua kubu pasukan antara 300 orang melawan 3000 orang (ada yang menyebut 72 lawan4000), salah satu cucu Nabi Muhammad Saw bernama Imam Husein terbunuhsetelah tangan dan kepala terpisah dari badannya. Dalam kondisi yang mengenaskan itu jasad Imam Husein di temukan oleh Ahlul Bait beserta pengikutnya yang selamat dalam peperangan





1 komentar: